Super User

Super User

Jumardin Warga Makassar Beli Mobil dan Punya Usaha Kos-kosan dari Keuntungan sebagai Agen BRILink

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Butuh keberanian untuk membuat perubahan dalam hidup.

Jumardin (41), seorang petani di Kabupaten Soppeng, Sulsel, nekat menginjakkan kaki di kota metropolitan Makassar untuk mengais rejeki.

Ia bertolak meninggalkan Kota Kalong, julukan Kabupaten Soppeng, pada tahun 2003, dengan memboyong istri dan anaknya. Berharap mendapat kehidupan yang lebih layak di Makassar.

Lelaki kelahiran 1980 ini memulai usaha kecil-kecilan di Jl Abubakar Lambogo (Ablam), Makassar, dengan membuka 'gadde-gadde' atau kios kelontongan.

Pekerjaan itu ditekuni selama delapan tahun, dari 2003 hingga 2011, dengan keuntungan 10 persen dari pendapatannya per hari.

"Kalau misalnya dapat Rp 1 juta per hari, yah keuntungan cuma Rp 100 ribu," ucap Jumardin.

Seiring perjalanan waktu, Jumardin kemudian memutuskan menjadi agen BRILink. Dan usaha ini, membawa berkah untuknya.

Keuntungan yang diraup, dia pakai untuk memperbaiki rumah, membeli motor, mobil, hingga membuat usaha baru, usaha kos-kosan.

Dimulai pada tahun 2014 lalu, oleh rekannya yang bekerja sebagai pegawai BRI, Jumardin ditawarkan menjadi agen BRIlink saat launching perdana.

 

Ia berani mempertaruhkan modal Rp10 juta meski belum yakin akan hasilnya.



Perjalanan yang ditempuh tentu tak mudah, ia butuh meyakinkan masyarakat untuk bergabung sebagai nasabah.

"Susah sekali cari nasabah, untung ada jualan campuran. Kalau ada yang belanja biasa saya sampaikan ada layanan transfer, tarik tunai, dan pembayaran lainnya," bebernya.

Ia menerapkan konsep pelayanan 24 jam tanpa istirahat. Bagi ayah tiga anak ini, pelayanan yang ramah dan terbuka menjadi salah satu faktor pelanggan tertarik bertransaksi di tempatnya.

Padahal, lokasi tokonya tak jauh dari hiruk pikuk perkotaan, sekitar 5 menit dari Jalan AP Pettarani.

Perantau asal Jawa mendominasi pelayanannya, sekira 70 persen.

"Orang Jawa biasanya kalau pulang kerja mereka langsung menyetor disini. Mereka tidak simpan uang di rumah," sebutnya.

Dengan sistem sharing fee 50-50 dengan pihak BRI, dalam satu kali transaksi, suami dari Suriani (35) ini, hanya mendapat Rp 500 ditambah Rp 1500 tarif untuk tiap nasabah.

Seiring berjalannya waktu, nilai sharing fee bertambah, dari Rp 1000 menjadi Rp 3 ribu. Sehingga keuntungan per satu kali transaksi Rp 1500 diluar dari tarif yang dikenakan ke nasabah.

Rata-rata transaksi per harinya 100 nasabah, bahkan bisa mencapai 5 ribu nasabah per bulan.

 

Tak ayal, Jumardin mendapat peringkat pertama sebagai transaksi agen Brilink terbesar sekaligus pertama di BRI Kc Panakkukang, Makassar.



Semenjak menjadi Agen Brilink, sudah banyak fasilitas yang Jumardin dapatkan dari BRI. Seperti TV, HP dan mesin hitung uang.

Dalam sebuah perjalanan tentu ada bebatuannya, hal itu juga dirasakan Jumardin. Ia beberapakali dapat sial karena ditipu nasabah.

Misalnya, ada nasabah yang pura-pura ingin mentransfer. Setelah transferan berhasil, nasabah langsung bergegas pergi tanpa membayar transferan yang sudah dikirimkan ke rekening tujuan.

"Sudah berkali-kali. Ada juga yang salah nomor rekeningnya. Kalau itu kesalahan kami, yah dikembalikan uangnya," ujarnya.

Namun, setiap kesalahan dijadikan perjalanan.

"Dalam melakukan pelayanan, yang paling penting adalah ketelitian," kata Jurmardin.

 

Read More >>
Kisah Sukses Agen BRILink di Dairi, Sempat Terpuruk Karena Cacat Kini Mampu Bangun Rumah Bertingkat

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kecelakaan motor pada tahun 2012 menjadi malapetaka terbesar dalam kehidupan Jackson Malau. Ia terpuruk menyadari kondisi dirinya akibat lakalantas tersebut. 

Bagaimana tidak, selama menjalani perawatan medis yang cukup panjang, lelaki kelahiran Kabupaten Dairi ini sempat dinyatakan harus diamputasi oleh pihak rumah sakit. 

Rasa takut tak dapat beraktivitas seperti biasa terus berkecamuk di dalam pikirannya.

"Semenjak kecelakaan pada tahun 2012, saya melakukan pengobatan panjang sampai 2013. Nah saat itu pihak rumah sakit minta saya untuk diamputasi. Kebetulan saya sama keluarga keberatan untuk diamputasi, jadi akhirnya saya mengakhiri pengobatan rumah sakit dan berjalan hingga saat ini menggunakan tongkat," ungkap Jackson, Jumat (11/6/2021).

Bertahun-tahun di tengah keterpurukan, terlintas di benaknya kata-kata mutiara, "Akan ada pelangi sehabis hujan".

Ia pun mencoba berdamai dengan keadaan yang tak lagi sempurna.

Lelaki 34 tahun ini akhirnya bangkit kembali pada tahun 2016.

Ia kembali ke kampung dengan membuka usaha fotokopi dengan nama Berkah Utama Mandiri, Jalan Pardomuan, Desa Pardomuan, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Kabupaten Dairi.

Namun, lantaran keterbatasan biaya, Jackson memilih menumpang membuka usaha di rumah keluarganya dengan luas tempat 2x4 meter. Kecil memang, namun Jackson bersyukur mendapat kesempatan berwirausaha.

 

Saat mulai menjalankan usaha fotokopi miliknya, Jackson mengisi perlengkapan seadanya dengan modal yang terbatas.

 

Jackson bersikukuh untuk membuka fotokopi pada saat itu lantaran ia meliha kondisi desanya yang begitu minim usaha perlengkapan ATK.

Sehingga, ia pun bertekad untuk dapat memudahkan anak sekolah di sana untuk dapat membeli peralatan sekolah.

"Kebetulan di kampung itu cuma satu yang punya usaha fotokopi. Jadi biar memudahkan mereka (anak sekolah) juga untuk dapat membeli peralatan tulis. Sekolah juga ada yang bisa kita ajak partner, itu yang membuat saya memantapkan diri untuk buka usaha ini," tuturnya.

Sambil menjalankan usahanya, Jackson juga sambil berpikir untuk dapat mengembangkan usaha miliknya ini.

Kemudian pada tahun 2017, menjadi awal perjumpaan pihak BRI dengan Jackson. Pada perjumpaan tersebut, Jackson mencurahkan keinginannya untuk dapat bisnisnya dan dari sinilah dia memiliki keinginan untuk menjadi Agen Brilink.

Namun, pada akhirnya Jackson berhasil menjadi Agen Brilink pada tahun 2018. Ia menjelaskan bahwa dirinya harus menunggu hadirnya tower jaringan internet di desanya.

"Pada tahun 2017 saya curhat dengan BRI. Tapi pada tahun itu kebetulan daerah saya belum ada jaringan provider. Tapi sudah curhat dengan pihak BRI. Jadi tahun 2018, memang kalau sudah jodoh ya, ada penurunan tower di daerah desa kami ini. Terus langsung saya kabari lagi pihak BRI terkait keinginan saya bergabung dan langsung direspon. Jadi sekitar sebulan proses menjadi agen BRI," jelasnya.

Jackson menuturkan bahwa dirinya tak mengalami kesulitan saat mengurus pendaftaran lantaran dirinya juga dibimbing hingga akhirnya resmi menjadi agen BRILink.

"Pada saat itu memang syarat nya yaitu harus memiliki lokasi usaha, kemudian kita merupakan nasabah BRI, kemudian KTP, KK, dan nomor NPWP kemudian izin usaha tingkat kecamatan," kata Jackson.

 

Ketakutan Jackson yang mengira tak dapat melakukan aktivitas ternyata tak terbukti. Kini setelah menjadi agen BRILink Unit Parongil Cabang Sidikalang selama 3,5 tahun, kehidupan Jackson kian membaik.

 

'Puji Tuhan ya, bisa dibilang sangat diluar ekspetasi kita hanya sekedar saja tapi ternyata memberikan dampak yang cukup besar," ujarnya.

Dalam satu hari, Jackson melayani 20-40 nasabah per hari dengan transaksi per hari Rp80 juta- Rp100 juta dengan berbagai transaksi seperti transfer, tarik tunai, setor simpanan, dan pembayaran tagihan.

Adapun operasional BRILink Jackson dibuka pada Senin - Sabtu : 06.00 s/d 22.00 dan Minggu : 06.00 s/d 09.00 dan 13.00 s/d 22.00 (Karena Ibadah Minggu).

Hadirnya BRILink di Desa Pardomuan ini ternyata disambut baik oleh masyarakat. Hal ini lantaran desa yang ditinggali Jackson cukup terpencil yang memerlukan jarak kurang lebih 30km untuk ke BRI unit Desa Pardomuan dan sekitar 40km untuk ke Sidikalang.

Selama 3,5 tahun berjalan sebagai agen BRILink, kini Jackson sudah memiliki rumah sendiri dari hasil usahanya dengan dukungan BRILink.

"Dampak besar yang paling saya rasakan yaitu saya sudah bisa beli tanah dan bangun rumah sendiri dan dalam dua bulan terakhir ini saya baru saja siap renovasi untuk bangun lantai dua di depan usaha kita ini," tuturnya.

Kini, Jackson bersama istri, Elvi Solina Nainggolan dan kedua anaknya dapat menjalani kehidupan dengan berkecukupan dan tetap melayani para nasabah dengan sebaik mungkin untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Pendapatan Sistem Sharing Fee

Perkembangan yang cukup pesat ini juga turut membuat Alex Iwan Sinaga, Petugas Agen BRILink (PAB) wilayah Kecamatan Sidikalang, Dairi senang bahwa agen BRILink yang ia dampingi dapat meningkatkan perekonomian.

"Dia saat itu hanya punya fotokopi dan rumah masih sederhana terbuat dari kayu. Jarak kota ke desanya juga sangat jauh termasuk pelosok. Dengan usaha sebagai agen BRILink dia bisa cari pendapatan sendiri. Pak Jackson ini sangat ulet bekerja, bahkan jika malam ada yang ingin transaksi tetap ia layani," ujar Alex.

 

Dijelaslan Alex, sistem pendapatan menjadi agen BRILink dinamakan sharing fee dengan pembagian 50:50.



"Jadi dari yang dibagi itu misalnya transfer sesama BRI administrasinya Rp3000. Itu terdebet dulu dari agen, kemudian besoknya dikembalikan lagi sama agen sebesar Rp1500. Semua transaksi lainnya seperti itu," jelasnya.

Adapun untuk biaya administrasi transfer sesama BRI Rp3000, transfer antarbank Rp15.000 dengan maksimal Rp2 juta kemudian untuk transfer antarbank di atas Rp2 juta-Rp5 juta itu sebesar Rp20.000.

"Jadi di BRILink ada limit, nasabah tidak dapat mengirim di atas Rp5 juta karena untuk bertransaksi maksimal Rp5 juta di agen BRILink. Penarikan uang pun langsung Rp15 juta tidak bisa karena maksimal Rp10 juta untuk tarik tunai, jadi harus dua kali transaksi," kata Alex.

Berdasarkan informasi dari Alex, saat ini di BRI Sidikalang memiliki kurang lebih 360 agen BRILink untuk dua kabupaten yaitu Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Bharat.

Dikatakan Alex, untuk menjadi agen BRILink cukup mudah dengan para nasabah hanya perlu memiliki usaha seperti warung, toko, ataupun kios kecil. Kemudian memiliki rekening BRI dan modal awal sebesar Rp15 juta.

"Nasabah minimal punya dana sebesar Rp15 juta karena itu nanti perputarannya untuk mengirim uang, pengambilan uang sebagai modal awal. Jadi itu dilengkapi surat keterangan usaha dari kades atau RT/RW," pungkasnya.




Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Kisah Sukses Agen BRILink di Dairi, Sempat Terpuruk Karena Cacat Kini Mampu Bangun Rumah Bertingkat, https://medan.tribunnews.com/2021/06/11/kisah-sukses-agen-brilink-di-dairi-sempat-terpuruk-karena-cacat-kini-mampu-bangun-rumah-bertingkat?page=2.
Penulis: Kartika Sari | Editor: Juang Naibaho

Read More >>